suatu sore di sebuah Gereja

Sabtu, 22 Februari 2014

ini cerita si Stefanus Dandy sebenrnya udah dari beberapa tahun yang lalu.. lupa tanggal berapa yang penting tadi aku liat-liat di draft dan aku nemu post ini yang tanpa sengaja ke simpen di draf.. yaudah aku share aja kalo gitu.. tapi tanggalnya jadi mawut gini.. oke selamat membaca :)

Kata yang tak sesuai dengan kenyataan.,suatu sore di sebuah gereja, suasana yang begitu sejuk, angin menghembus di antara pohon cemara menyajikan nada penghujung hari itu. lantai halaman gereja yang baru saja bermandikan air hujan, sudut kota yang beriaskan lembayun senja, kilauan tetes hujan yang terpapar matahari senja itu menjadikan semua yang terlihat kala itu menenangkan hati.

satu persatu orang datang ke gereja itu untuk hadir dalam perjamuan-Nya. dari sudut pintu masuk itu, terlihat satu anak manusia yang harus duduk termenung di kursi rodanya, memasuki kawasan gereja. di bawah pohon depan gereja itulah dia dan sebagian orang yang tak memperoleh tempat di dalam gereja mengikuti perjamuan sore itu dengan khusuk.

dari kejauhan aku mengamatinya sambil merenung, bagaimana dia dapat menerima semua ini? suatu keadaan yang sedemikian rupanya. hingga tiba saatnya kami menerima tubuh dan darah-Nya, dia hanya terdiam di kursi rodanya, menunggu giliranya. namun, tak ada satu orang pun yang mengusahakannya, hingga yang bertugas itu pun maju kedepan.

dari jauh kulihat, seseorang menghampirinya. mereka bercakap. aku mengenal orang itu. orang itu pun maju ke depan, menghampiri seorang prodiakon. hingga aku lihat dia datang bersama prodiakon itu dan memberikan tubuh dan darah-Nya kepadanya.

dan dari jauh aku tersenyum bangga, terlintas di benakku, "Banyak orang yang menganggap dirinya sebagai orang yang peduli, namun banyak di antara mereka yang hanya melihat, apa yang seharusnya ia lakukan,.
kepada orang itu, aku bangga padamu..

Get This Comment Form

0 comment(s):

 
Copyright© 2010 Felisitas Brillianti | Semelekete Weleh Weleh | http://dr214ac.blogspot.com